Companion Planting dalam Pengendalian Hama Serangga : The Three Sisters Garden

Companion-Planting-dalam-Pengendalian-Hama-Serangga-The-Three-Sisters-Garden-scaled

oleh : M Gufron Rosyadi & Listya Purnamasari

Keprihatinan akan penggunaan pestisida kimia yang tidak hanya membunuh organisme target tapi juga non-target bahkan berbahaya terhadap manusia, mendorong ilmuan untuk mengembangkan pengendalian hama secara terpadu dengan memperhatikan faktor lingkungan. Salah satu alternative pengendalian hama adalah diversifikasi bidang pertanian dengan pola penanaman polikultur yang mencakup lebih dari satu jenis tanaman yang ditanam secara berdampingan. Pola polikultur ini juga dikenal sebagai companion planting 

Manipulasi habitat yang baik dapat digunakan dalam pengendalian OPT kaitannya dengan penyediaan makan alternative dari musuh alami yang membantu pengendalian OPT serta dapat digunakan sebagai inang alternative atau perlindungan alami (Gontijo, 2019). Secara alami semua organisme di alam mempunyai musuh. Contohnya yaitu wereng coklat yang bermusuhan dengan predator (Lycosa, Paederus, Coccinella, dsb), parasitoid (Cytorrhinus), dan pathogen (Beauveria). Adanya kegagalan dari peran musuh alami dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti kematian musuh alami karena ketiadaan tempat berlindung saat penyemprotan dan kekurangan makanan saat tidak ada tanaman (Wijayanti, et al.¸ 2019).

Manipulasi habitat bisa dilakukan dengan menanam tumbuhan di dalam lahan atau di sekitar pertanaman untuk meningkatkan keanekaragaman habitat yang ada. Menurut Altieri dan Nicholls (2004) Tumbuhan liar merupakan komponen agroekosistem yang penting, karena secara positif dapat mempengaruhi biologi dan dinamika musuh alami. Tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar pertanaman tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung (shelter) dan pengungsian musuh alami ketika kondisi lingkungan tidak sesuai (van Emden, 1991), tetapi juga menyediakan inang alternatif dan makanan tambahan bagi imago parasitoid seperti serbuk sari dan nektar dari tumbuhan berbunga serta embun madu yang dihasilkan oleh ordo Homoptera (Altieri dan Nicholls 2004).

Peningkatan keanekaragaman tanaman dapat dilakukan dengan membudidayakan tanaman pendamping yang di tanam berdampingan dengan tanaman utama (Landis et al. 2000). Tanaman pendamping tidak harus tanaman berbunga. Tanaman tanpa bunga juga masih dapat menyediakan sumber pangan musuh alami dan tempat berlindung musuh alami (Jones et al., 2017). Kehadiran musuh alami dengan bantuan tanaman pendamping, secara terus menerus dapat menurunkan tingkat serangan dari OPT (Snyder, 2015)

Manfaat lain dari adanya tanaman pendamping yaitu dapat memberikan iklim mikro yang baik dan makanan alternative yang dapat mencegah serangan OPT (Gontijo, 2019). Tanaman pendamping juga dapat menjadi penghalang fisik bagi OPT yang tidak terbang sehingga akan lebih sulit menemukan tanaman target (Holland, et al., 2008). Tanaman pendamping mampu mempersulit OPT dalam berkembang pada tanaman sasaran/inang, baik dengan menutupi bau tanaman inang (Poveda et al. 2008), melepaskan zat volatile pengusir (Finch & Collier, 2012), memodifikasi penerimaan tanaman (Ben-Issa et al., 2017). Keragaman spesies sangat menentukan kestabilan suatu ekosistem.

Penanaman berdampingan memungkinkan adanya hubungan yang saling mengandalkan seperti sintesis hormone alami tumbuhan untuk meningkatkan pertumbuhan atau perlindungan. Sederhananya tanaman yang satu dapat memberikan keteduhan dan kebermanfaatan bagi tanaman yang lain. Konsep penanaman pendamping atau companion planting yang saat ini banyak dikenal masyarakat adalah Three sisters dimana tanaman tumbuh bersama dan bersimbiosis. Konsep three sisters ini merupakan metode bertani kuno native American. Tanaman akan tumbuh berdekatan satu dengan yang lain dan akan saling membantu dalam penyerapan hara tanah, memperbaiki pengelolaan hama, mengurangi penggunaan pestisida, meningkatkan penyerbukan serta menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.

Tanaman yang ditanam berdampingan adalah jagung, kacang – kacangan dan labu. Jagung akan memiliki fungsi sebagai tempat merambatnya kacangkacangan, sedangkan kacang-kacangan mengikat nitrogen dari udara dan membawanya ke tanah serta, sedangkan tanaman labu digunakan untuk menekan gulma invasive serta besarnya daun yang membentang di atas tanah menjaga kelembaban tanah. Konsep ini tentang kompatibilitas dan memanfaatkan alam untuk melakukan pekerjaannya dengan berpandang bahwa apa yang kita ambil dari alam dan apa yang kita berikan kembali. Sebuah konsep penanaman pendampingan yang berkelanjutan yang memberikan kesuburan tanah dan pola makanan sehat dalam satu kali penanaman (Parker et al. 2013).

Manfaat nyata yang dapat terlihat dari konsep penanaman metode Three Sisters ini adalah mendapatkan hasil pertanian dalam jumlah besar dari tempat yang terbatas tanpa menguras nutrisi yang ada di dalam tanah. Kombinasi tanaman Three sisters mampu menghasilkan tanaman yang sehat dan produkivitas yang meningkat serta beresiko rendah diganggu oleh OPT maupun penyakit. Potensi serangan OPT pada penanaman berdampingan juga dapat dicegah dengan menanam beberapa tanaman refugia di sekitar tanaman utama, biasanya perpaduan sayur dengan bunga diantaranya yaitu marigold, nasturtium, dan catnip yang mampu menarik musuh alami OPT (Moreau et al, 2006). Selain itu, tanaman refugia juga mampu menarik lebah atau kupu-kupu untuk datang dan membantu penyerbukan.

Taman kecil dengan beragam jenis tanaman memiliki kemungkinan kecil untuk diserang penyakit atau hama dengan adanya keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Kebutuhan pestisida dan produk kimia lainnya akan berkurang sehingga kebun akan memiliki sistem kekebalan yang kuat untuk menangani tekanan lingkungan seperti kekeringan, panas, maupun dingin.

Daftar Pustaka

  • Altieri MA, Nicholls CI. 2004. Biodiversity and Pest management in Agroecosystem. Second Edition. New York: Food Product Pres.
  • Ben-Issa, R. Gomez, L. & Gautier, H. 2017. Companion Plants For Aphid Pest Management. Insects, 8: 112
  • Finch, S., & Collier, R.H. 2012. The influence of host and non-host companion plants on the behaviour of pest insects in field crops Entomologia Experimentalis et Applicata, 142: 84-96
  • Gontijo, M. 2019. Engineering Natural Enemy Shelters to Enhance Conservation Biological Control In Field Crops. Biological Control, 130: 155-163
  • Holland, M., Oaten, H., Southway, S. & Moreby, S. 2008. The Effectiveness Of Field Margin Enhancement For Cereal Aphid Control By Different Natural  Enemy Guilds. Biological Control, 47: 71-76
  • Landis, D.A., Wratten, S.D. & Gurr G.M. 2000. Habitat Management To Conserve Natural Enemies Of Arthropod Pests In Agriculture. Annual Review of Entomology, 45: 175-201
  • Moreau, T.L., Warman, P.R. & J. Hoyle, J. 2006. An Evaluation of Companion Planting and Botanical Extracts as Alternative Pest Controls for the Colorado Potato Beetle. Biological Agriculture & Horticulture. 23:4, 351-370
  • Parker, J.E., Snyder, W.E., Hamilton G.C., & Saona C.R., 2013. Weed and Pest Control Chapter 1 Companion Planting and Insect Pest Control. InTech, Croatia.
  • Poveda, K., Gómez, M.I. & Martínez, E. 2008. Diversification practices: Their effect on pest regulation and production. Revista Colombiana de Entomologia, 34: 131-144
  • Snyder, W.E. & Ives, A.R. 2003. Interactions between generalist and specialist natural enemies: Parasitoids, predators and pea aphid biocontrol Ecology, 84: 91-107
  • van Emden HF. 1991. Plant diversity and natural enemy efficiency in agroecosystems. Di dalam: Mackkauer M, Ehler LE, Roland J, editor. Critical Issues in Biological Control. Great Britain: Atheneum Press. 63-80.
  • Wijayanti, R., Supriyadi dan Wartoyo. 2019. Manipulasi Habitat sebagai solusi terjadinya Outbreak      Wereng            Coklat https://eprints.uns.ac.id/13749/1/Publikasi_Jurnal_(108).pdf